Butuh Prioritas untuk Melawan Obesitas

Minggu, 27 Juni 2010
Diposting oleh Inspirasi

Banyak orang mengeluh karena berat badan terus bertambah, dan penyakit mulai berdatangan. Sayang, tak semua orang segera mengambil tindakan untuk melawan kondisi ini. Jika pun kita mulai berdiet, seringkali tak berlangsung lama. Hal ini disebabkan kita ingin segera mendapatkan hasil dari program penurunan berat badan tersebut. Ketika program tersebut tak juga memperlihatkan hasil yang diinginkan, kita pun cenderung menyerah.

Kegagalan menurunkan berat badan ini kerapkali mengubah seseorang menjadi kreatif, dengan menciptakan cara-cara sendiri yang menurutnya akan efektif. Martha Lai, salah satu kontestan The Biggest Loser Asia asal Hong Kong, mengaku punya ide gemilang untuk mengurangi asupan kalori. Ia memilih makan nenas untuk menggantikan sarapan, makan siang, dan makan malamnya.

"Bisa ditebak, pada hari kedua saja ia sudah tak mau lagi makan nenas sepanjang hidupnya. Sebab, tidak ada logika di balik alasan ia mengonsumsi nenas itu," papar Dave Nuku, pelatih Tim Biru dalam TBLA, saat talk show "Belive.Begin.Become" di Fitness First Pacific Place, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Menurut pria berumur 30 tahun ini, program penurunan berat badan akan membutuhkan unsur olahraga, diet seimbang, dan landasan pendidikan jangka panjang yang memungkinkan seseorang memegang kendali atas hidup mereka berdasarkan pengetahuan tersebut. Tanpa memenuhi unsur-unsur ini, upaya penurunan berat badan hanya akan menjadi peperangan yang sulit dikalahkan.

Meskipun demikian, harus diakui pula bahwa tidak mudah menjalani program penurunan berat badan. Ketika tubuh sudah lama tidak bergerak, otot-otot menjadi kaku. Saat dipaksa bergerak untuk pertama kalinya, jelas otot-otot akan terasa nyeri. Padahal, program tersebut harus dijalankan secara rutin.

Kebanyakan orang merasa takut tak akan mampu menjalani program latihan secara rutin, dan menyerah sebelum mulai berlatih. Sebagian yang lain akan menyalahkan jadwal kerja yang padat, atau memberikan alasan "Saya enggak punya waktu", untuk menutupi rasa bersalah karena tak pernah berolahraga. Alasan lain seperti sulitnya menemukan makanan "bersayur" saat di kantor juga begitu mudah menghalangi niat Anda untuk menerapkan pola makan yang sehat.

Ladies, tahukah Anda apa yang sebenarnya menyebabkan semua program Anda gagal total? Bukan jadwal kerja yang padat, dan bukan pula karena kantor tidak menyediakan alternatif makanan yang sehat untuk Anda. Kegagalan ini terjadi karena Anda tidak menjadikan hidup sehat sebagai prioritas dalam hidup Anda.

Ketika olahraga menjadi prioritas, Anda akan menyusun jadwal rutin untuk berolahraga, dan bukannya mencari-cari waktu kosong untuk latihan. Anda akan berani menolak ajakan teman-teman untuk ngopi-ngopi atau shopping bareng sepulang kantor, dengan mengatakan, "Sori, nanti sore jadwal saya latihan." Jadwal shopping-lah yang menyesuaikan jadwal latihan, bukan latihan yang harus dijadwalulang karena Anda ingin shopping.

Saat makan sehat menjadi prioritas, Anda tahu bahwa Anda harus berusaha untuk mendapatkan makanan tersebut. Anda tidak akan takut tergoda ketika teman-teman menikmati sate kambing, bebek goreng, atau cumi bakar, karena Anda punya tujuan yang jelas: "Siang ini saya ingin makan gado-gado", misalnya.

Akan sangat wajar jika Anda mengalami kejenuhan di sela-sela program ini. Tetapi jika hidup sehat telah menjadi prioritas, Anda akan mampu melawan rasa jenuh atau rasa malas yang tiba-tiba menyerang. Olahraga dan makan sehat sudah menjadi "janji" yang harus Anda penuhi. Anda menjadikan kedua hal ini sebagai kebiasaan dan gaya hidup, bukan suatu aktivitas yang dilakukan sekali-sekali.

Pendek kata, tidak ada jalan pintas untuk mencapai gaya hidup yang sehat, dan tidak ada yang bisa menggantikan kerja keras. Sekali lagi, ketika Anda menjadikannya prioritas, tak ada hal-hal yang mampu menghalangi program latihan Anda.

Menghindari Sitting Disease dengan Langkah Mudah

Sabtu, 19 Juni 2010
Diposting oleh Inspirasi

Penyakit terlalu banyak duduk (sitting disease) ini merupakan satu jenis "tren" baru bagi mereka yang memiliki gaya hidup minim aktivitas atau olahraga. Meski rasanya tak ada yang salah dalam menjalankan kebiasaan ini, namun sebuah riset terbaru mengatakan bahwa ketika tubuh jarang bergerak, maka risiko terkena penyakit jantung, diabetes, kanker, dan obesitas pun melonjak. Di bulan Januari tahun ini, para ahli dari Inggris menemukan adanya hubungan antara terlalu lama duduk dengan peningkatan risiko terkena penyakit. Di saat yang berdekatan pula, para peneliti dari Australia mengatakan, bahwa setiap satu jam kita duduk di depan televisi, bisa meningkatkan 18 persen kemungkinan terkena penyakit kardiovaskuler.

Berikut adalah beberapa hal kecil yang bisa Anda lakukan untuk menghindari sitting disease ini.

Aktivitas selain berolahraga. Levine merekomendasikan untuk Anda yang tak memiliki waktu untuk berlatih fisik setiap harinya untuk melakukan kegiatan fisik yang bukan olahraga berat. Aktivitas ini ia beri nama nonexercise activity thermogenesis (NEAT). Yang termasuk dalam kegiatan ini antara lain; peregangan, menekuk lutut, memutar pinggang, dan lainnya. Cobalah untuk menargetkan diri melakukan kegiatan ini sepuluh menit dalam setiap jam. Apa yang diminta dari NEAT adalah untuk Anda melakukan kegiatan fisik yang tak perlu mengeluarkan uang. Ini sangat baik untuk mereka yang beralasan tak memiliki uang dan waktu untuk pergi ke pusat kebugaran. Kembangkan aktvitas harian Anda dengan berolahraga, misal, dengan mempercepat langkah saat menuju telepon, tak berkutat lama di depan internet, atau mengajak si kecil berkeliling komplek.

Padukan duduk dan berdiri. Duduk dalam waktu lama tidak sehat untuk manusia, namun berdiri dalam waktu lama pun bisa menimbulkan masalah, seperti punggung sakit dan kaki pegal atau keram. Akan sangat baik untuk mengubah posisi dari duduk ke berdiri dan sebaliknya secara rutin.

Ambil waktu istirahat.
"Kebanyakan orang sudah mengetahui, bahwa jika tubuh kita tidak beraktivitas fisik, maka timbangan berat badan bisa melonjak, namun hal ini tidak menjadi motivasi yang cukup kuat untuk membuat seseorang mulai bergerak," terang ahli kebugaran, Fabio Comana, juru bicara American Council on Exercise di San Diego. Ia menyarankan untuk mulai memotivasi diri dengan gol kecil. Cobalah untuk melakukan peregangan seluruh bagian tubuh, khususnya otot-otot yang sering keram. Jika Anda melakukan peregangan ini 5-6 kali per hari, Anda akan merasakan perbedaannya.

Jangan malas.
Anggaplah tahun ini adalah tahun sebelum kejayaan internet. Jika Anda ada perlu dengan rekan kerja yang kubikelnya masih ada di lantai yang sama, kunjungilah sesekali. Kurangi pengiriman email yang sebenarnya bisa dilakukan sambil bertatap muka.

Kebiasaan baik. Berdiri menggunakan otot lebih banyak, dan membakar kalori lebih banyak ketimbang duduk. Jadi, latihlah diri Anda untuk berdiri, ketika menerima telepon, misalnya. Gunakan tangga darurat untuk naik atau turun beberapa lantai, kurangi penggunaan lift.

15 menit untuk 2 jam.
Memperlama diri duduk di ruang kerja bisa membuat diri Anda lelah, membuat Anda cenderung mengantuk menjelang jam pulang kantor. Namun, ketika Anda berjalan kaki, sekitar 15 menit di sore hari, Anda akan merasa lebih produktif di jam-jam menjelang pulang kantor.

Pertimbangkan transportasi umum. Amat berbahaya untuk mencoba berolahraga sambil menyetir mobil atau kendaraan pribadi. Namun, ketika Anda menggunakan kendaraan umum ke tempat kerja, Anda bisa berdiri, menggerakkan otot-otot kaki dan tangan, atau turun beberapa meter dari kantor untuk berjalan sejenak menuju kantor. Jika transportasi massal bukan pilihan untuk Anda, carilah tempat parkir yang cukup jauh agar Anda bisa berjalan kaki beberapa menit menuju kantor dan dari kantor ke kendaraan Anda.

Tonton televisi lebih banyak. Ya, Anda tak salah baca, namun jangan senang dulu. Anda boleh menonton televisi dalam waktu lama hanya jika Anda melakukan kegiatan yang cukup mengolah fisik di depannya. Misal, tempatkan treadmill atau sepeda statis di depan televisi. Tak ada alat kebugaran ini? Cobalah berbenah sambil menonton televisi, misal, bersih-bersih daerah di depan televisi. Jangan biarkan diri Anda melemah karena terlalu banyak bersantai. Riset menunjukkan bahwa semakin lama Anda menonton televisi, makin besar pula risiko lingkar pinggang Anda melebar, dan makin tinggi pula risiko Anda terkena penyakit kardiovaskuler.

Terlalu Banyak Duduk? Awas Sitting Disease!

Minggu, 13 Juni 2010
Diposting oleh Inspirasi


Kemungkinan terbesar, saat membaca tulisan ini, Anda sedang duduk. Jika Anda seperti kebanyakan pengguna komputer, Anda sudah berada di tempat duduk tersebut dalam waktu cukup lama. Jika memerhatikan dan menghitung aktivitas Anda belakangan ini, apakah tubuh Anda benar-benar "aktif"? Jika jawabannya "tidak", maka sudah saatnya Anda mengetahui bahwa duduk terlalu lama akan menimbulkan masalah kesehatan tersendiri bagi Anda di masa mendatang.

Meski Anda berpikir bahwa kegiatan Anda segudang, tapi perhatikanlah kembali aktivitas dan gerak tubuh Anda. Apakah selama perjalanan dari rumah ke kantor, Anda hanya duduk di mobil, duduk di balik meja selama 8 jam, lalu sisa hari dihabiskan di depan televisi selama berjam-jam? Apakah Anda mengandalkan surat elektronik untuk berkorespondensi, berbelanja lewat internet, dan mengandalkan fasilitas yang membuat Anda tak harus beranjak dari tempat duduk? Jika ya, maka Anda sudah terkena "penyakit terlalu banyak duduk".

Penyakit terlalu banyak duduk (sitting disease) ini merupakan satu jenis "tren" baru bagi mereka yang memiliki gaya hidup minim aktivitas atau olahraga. Meski rasanya tak ada yang salah dalam menjalankan kebiasaan ini, namun sebuah riset terbaru mengatakan bahwa ketika tubuh jarang bergerak bisa meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, diabetes, kanker, dan obesitas. Di bulan Januari tahun ini, para ahli dari Inggris menemukan adanya hubungan antara terlalu lama duduk dengan peningkatan risiko terkena penyakit. Di saat yang berdekatan pula, para peneliti dari Australia mengatakan, bahwa setiap satu jam kita duduk di depan televisi, bisa meningkatkan 18 persen kemungkinan terkena penyakit kardiovaskuler.

James Levine, MD, PhD, profesor obat-obatan dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, dan penulis Move aLittle, Lose a Lot mengatakan, "Manusia berevolusi sebagai entitas yang berjalan, mengeksplor dunia menggunakan kakinya." Namun, anehnya, menurut Levine, bahwa di dunia yang sekarang, manusia menghabiskan sebagian waktunya dalam sehari dengan duduk. Menurutnya, hal ini merupakan sebuah kungkungan fisik seseorang. Saran dari Levine, lawan penyakit terlalu banyak duduk dengan mengambil langkah untuk mulai aktif secara fisik. Hal ini bisa dilakukan dengan mengubah susunan jadwal harian Anda secara drastis. Misal, dengan mengikuti kelas-kelas di gym, berangkat ke kantor naik sepeda, menaruh sepeda statis atau treadmill di depan televisi, atau menyewa seorang pelatih kebugaran pribadi. Jika terlalu mahal, Anda bisa menciptakan kegiatan-kegiatan kecil untuk mulai bergerak di sela-sela hari Anda.